Hati-Hati, Sikap Ini Bisa Menumbuhkan Rasa Iri Pada Anak

Anda mungkin akan merasa kesal kalau anak terus meminta ini itu, misalnya saja mainan baru seperti milik tetangg.

Liburan ke Bali seperti yang dilakukan sepupunya, atau menuntut diperbolehkan tidur lebih larut seperti sang kakak.

Tapi sebelum memarahinya, coba instropeksi diri terlebih dahulu. Apakah Anda punya kebiasaan seperti berikut ini yang membuat anak jadi mudah iri kepada orang lain di sekitarnya?

Sering membicarakan orang lain tanpa disadari, Anda mungkin sering sekali membicarakan orang lain dengan pasangan atau orang tua ketika anak juga ada di sana.

Misalnya saja Anda membahas mobil baru tetangga, membicarakan rencana pindah ke luar negeri yang akan dilakukan salah satu kerabat.

Atau bercerita tentang rekan kerja yang baru saja membelikan anaknya mainan impor.

Karena terlalu sering mendengar hal-hal seperti itu, anak jadi bertanya-tanya mengapa dirinya tidak mendapatkan hal yang sama.

Kalau sudah begitu, akan tumbuh rasa iri pada dirinya dan ia pun menuntut Anda untuk melakukan hal yang sama.

Terlalu protektif anda mungkin bermaksud untuk melindungi anak dari banyak hal, namun tanpa disadari malah bersikap terlalu protektif.

Anda mungkin melarangnya untuk bermain di luar rumah dengan alasan panas atau banyak kendaraan.

Hal ini juga bisa membuat anak iri dengan kebebasan temannya yang memiliki lebih banyak waktu bermain.

Anak pun cenderung menjadi sosok yang penuntut dan tidak bisa puas dengan apa yang diperolehnya.

Ia cenderung mencari-cari masalah dengan cara merengek pada hal yang tidak penting atau terus meminta Anda melakukan sesuatu untuknya.

Selain menimbulkan perasaan iri, terlalu protektif juga bisa menekan rasa percaya diri anak.

Selalu membandingkan dengan anak lain “Kamu sih, cuma dapat ranking 3. Nabila saja bisa rangking 1”.

Pernahkah anda mengucapkan kalimat sejenis ini pada anak? Jangan heran kalau akhirnya dia pun selalu membandingkan apa yang dimilikinya dengan orang lain.

Dia mungkin akan mulai protes kenapa ke sekolah harus naik bus dan bukannya mobil pribadi, kenapa saat liburan tidak bisa jalan-jalan ke luar negeri,

kenapa tak mendapat hadiah sepeda baru seperti temannya, dan lain-lain. Pada dasarnya, anak hanya meniru sikap Anda yang suka membandingkannya dengan orang lain.

Sehingga ia pun jadi sosok yang kurang bersyukur karena selalu mendongak ke atas.

Menciptakan kompetisi yang kurang sehat, saat anak berkumpul dengan para sepupunya.

Pernahkah Anda berusaha menciptakan kompetisi, misalnya siapa yang makannya cepat nanti dapat es krim atau siapa yang bisa bereskan mainan nanti dikasih hadiah?

Mungkin niat Anda sebenarnya hanyalah ingin memotivtasi anak supaya bisa melakukan banyak hal.

Tapi Anda lupa, bahwa kemampuan setiap anak berbeda dan bisa jadi buah hati belum bisa melakukan sesuatu sebaik para sepupunya.

Kalau misalnya ternyata ia kalah, bisa jadi muncul rasa iri dalam hatinya dan merasa Anda lebih menyayangi anak lain dibanding dirinya sendiri.

Saat anak menunjukkan rasa iri yang berlebihan pada orang lain, sebaiknya Anda segera introspeksi diri.

Siapa tahu hal itu justru disebabkan oleh sikap anda selama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *