Mudah Komunikasi Dengan Anak Remaja Asal Tahu Caranya

Pernahkah Anda merasa sedih karena hubungan dengan buah hati tak lagi sedekat dulu?.

Memasuki usia sekolah, terutama di jenjang SMP atau SMA, anak memang cenderung makin jauh dari orang tuanya.

Bukan karena tak sayang, namun mereka sudah memiliki lebih banyak teman dan aktivitas di luar rumah.

Tak jarang pula kerenggangan yang terjadi berkembang menjadi sebuah konflik karena terlalu banyak perbedaan pendapat antara orang tua dan anak remajanya.

Orang tua selalu menganggap semua yang dilakukan anaknya salah, sementara anak-anak merasa orang tua tidak bisa memahami mereka.

Hmm, jangan sampai Anda juga terjebak dalam hubungan semacam ini, ya. Berkomunikasi dengan anak yang sudah beranjak remaja bisa dilakukan kok, asal Anda tahu triknya seperti berikut ini:

Tunjukkan respek Anda. Bukan hanya anak yang harus menunjukkan rasa hormat kepada orang tuanya.

Anda pun perlu menunjukkan respek kepada anak. Di usia remaja, anak merasa sudah memahami apa yang benar dan salah serta mengerti hal apa yang lebih baik untuknya.

Alih-alih menentang, lebih baik Anda menghormati pemahaman mereka dan berusaha untuk selalu melibatkan anak dalam setiap pengambilan keputusan.

Meski pada akhirnya Anda tidak setuju, tunjukkan bahwa Anda berusaha untuk menghargai pendapatnya.

Saat anak mulai pacaran misalnya, jangan langsung menetang tapi coba cari tahu dulu apa arti pacaran buat mereka. Dari situ Anda bisa tahu langkah apa yang selanjutnya harus ditempuh.

Beri kesempatan untuk menjalani pilihan mereka sendiri, ketika anak menghadap anda dan meminta izin untuk melakukan sesuatu yang di luar perkiraan anda, jangan terburu-buru marah atau menyalahkannya.

Coba pikir dengan tenang dan kembalikan semua pertanyaan kepada anak. Hal itu akan membuat mereka berpikir lebih jauh, apa benar keputusan dan pilihan yang diambilnya sudah tepat?.

Misalnya saat anak ingin setelah SMA langsung kerja dan bukannya kuliah, coba tanyakan beberapa hal seperti: mau kerja apa?.

Lalu setelah kerja akan bagaimana? apakah kerja dengan ijazah SMA lebih menjanjikan dibandingkan kerja dengan ijazah S1 atau S2?

Jangan menyepelekan stres karena belajar salah satu hal yang paling banyak dijadikan perdebatan antara anak remaja dan orang tuanya adalah mengenai belajar.

Orang tua inginnya anak selalu jadi yang terbaik di kelas, lulus dengan nilai tertinggi, dan masuk perguruan negeri unggulan.

Tapi di sisi lain, tanyakan pada diri sendiri apakah itu yang diinginkan buah hati?.

Siapa tahu anak merasa senang dengan aktivitasnya di klub seni dan lebih memilih untuk meneruskan kuliah di universitas tertentu yang tidak terkenal namun maju dalam bidang seni?

Punya nilai tertinggi belum tentu hal yang terbaik. Akan lebih baik lagi kalau anak bisa menemukan passion mereka dan menjadikannya senjata untuk meraih prestasi, meski tak bisa diukur dengan nilai.

Yang terpenting, pastikan Anda mau menjadi orang tua yang mendengarkan anak, bukan hanya terus memarahinya.

Dan jangan pernah membandingkan pencapaian buah hati dengan orang lain, sebab mereka punya keinginan dan target yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *