Sudahkah Buah Hati Bebas Dari Bullying Di Sekolah

Anda pasti sudah tak asing dengan berita mengenai siswa sekolah yang terluka parah atau bahkan meninggal gara-gara dianiaya teman sekelasnya.

Di beberapa negara, bahkan banyak kasus bunuh diri anak akibat tidak tahan dengan ejekan teman sekolahnya.

Hal ini termasuk dalam bullying, atau perundungan dalam bahasa Indonesia. Bullying sendiri sangat berbahaya, sebab bisa merusak psikologis seorang anak dan bahkan menyebabkan kematian.

Bullying tentu menjadi mimpi buruk untuk banyak orang tua, termasuk Anda. Siapa yang mau buah hati yang begitu disayangi di rumah ternyata mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat di sekolah.

Nah, lalu bagiamana dengan putra dan putri tersayang? Apakah mereka sudah bebas dari bullying?.

Sebagai orang tua, penting sekali mengetahui serba-serbi bullying seperti berikut ini:

Bedakan bullying dengan teasing saling ejek dengan teman sekolah merupakan hal yang wajar, dan tak selalu termasuk dalam bullying.

Anak-anak memang memiliki fase tertentu di mana mereka suka menggoda temannya yang lain atau dikenal dengan istilah teasing.

Namun teasing ini jauh berbeda dengan bullying, karena sama sekali tidak ada faktor ingin menyakiti.

Teasing seringkali dilakukan karena si anak ingin menggoda temannya atau membuat suatu kelucuan.

Bahkan di kalangan anak laki-laki, teasing menjadi bagian dari pergaulan mereka.

Saat mengalami teasing, umumnya anak masih memiliki kemampuan untuk membalas dan setelah itu bisa melupaknnya dengan mudah karena ia pun memahami hal tersebut hanya sebatas candaan.

Yang termasuk ke dalam bullying ada beberapa jenis bullying berbeda, namun umumnya diawali dengan memusuhi dan mengucilkan seseorang.

Setelah itu, para pembully akan menyebarkan rumor yang tidak menyenangkan terkait anak yang dibully.

Mereka mungkin juga akan melakukan pengejekan dengan sangat parah melalui media sosial yang dikenal dengan nama cyber bullying.

Di fase yang lebih dalam, korban bullying bisa menerima pukulan, tendangan, atau tamparan.

Kalau sudah begini, bullying bisa dikatakan telah parah dan korban biasanya tidak memiliki kemampuan untuk melawan.

Tanda-tanda anak terkena bullying anda mungkin berpikir anak akan langsung mengadu pada orang tuanya saat mengalami bullying.

Namun survey mengatakan sebaliknya, di mana anak-anak lebih banyak diam dan menyimpan hal tersebut sendirian.

Mereka takut orang tua akan tidak percaya atau malah memperburuk keadaan.

Nah, maka dari itu Anda harus peka terhadap tanda-tanda bullying pada anak, seperti anak selalu murung dan menangis sepulang sekolah.

Sering menangis tanpa sebab, memiliki sedikit teman, mengalami penurunan nilai, dan mulai enggan disuruh berangkat sekolah.

Dalam beberapa kasus, ada juga anak yang mencuri uang orang tuanya untuk diberikan kepada para pembully.

Atau jika bullying sudah parah, Anda mungkin akan menemukan luka memar pada bagian tubuh si kecil.

Bullying harus dibasmi sampai ke akar. Jadi jika Anda menemukan ada kasus bullying, segera laporkan ke pihak sekolah dengan harapan pelaku akan mendapatkan pendidikan yang tepat untuk hal tersebut.

Sedangkan anak yang dibully harus diberi kenyamanan dan dikembalikan rasa percaya dirinya, bukan malah disalahkan karena tidak berani melawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *